Tampilkan postingan dengan label Toplist. Tampilkan semua postingan
8 Film Hollywood yang Tidak Sukses di Pasaran.
banyak Film Hollywood yang sukses, tapi tentu saja banyak Film Hollywood yang gagal di pasaran. Dibuat dengan dana besar, tapi terbilang film-film Hollywood itu gagal.
Film-film Hollywood yang gagal tersebut bisa diambil pelarjaran juga bagi pecinta film dan pekerja film itu sendiri. Nah berikut 8 Film Hollywood yang Tidak Sukses atau gagal di pasaran
1. Heaven's Gate (1980)
Film epik ala Barat dengan aktor-aktor kelas A dan biaya US$ 44 juta ini memiliki hampir semua kriteria untuk sukses. Namun sutradara Michael Cimino (The Deer Hunter) membuat film tersebut dengan buruk.
'Heaven's Gate' mengalami kerugian senilai 75,6 juta poundsterling atau setara sekitar Rp 1,1 triliun untuk saat ini.
2. Speed Racer (2008)
Wachowski Bersaudara mengeluarkan dana yang sangar besar untuk film live action adaptasi kartun Jepang ini, dan mereka tak mendapatkan keuntungan yang sebanding. Kritikus menyorot hampir semua aspek dalam film, mulai dari penggunaan CGI yang berlebihan, soundtrack yang buruk, hingga adegan mengemudi yang tak penting.
Film ini mengalami kerugian 75,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,10 triliun.
3. Town & Country (2001)
Film komedi romantis ini sudah bermasalah sejak awal pembuatannya. Produser mengeluarkan kocek tebal untuk deretan pemain seperti Diane Keaton, Charlton Heston, Goldie Hawn dan Warren Beatty, yang dibayar 3 juta poundsterling untuk bangkit dari kursi pensiunnya.
Selain itu ditambah fakta bahwa mereka tidak mendapatkan skrip yang telah selesai. Keseluruhan produksi tertunda satu tahun, sehingga para aktor kehabisan waktu dan pergi untuk membuat film lain.
Namun kemudian 'Town & Country' akhirnya dirilis pada 2001, lebih lambat tiga tahun dari jadwal rilis awal. Dan ketika keluar, hasilnya tidak sepadan dengan penantian selama tiga tahun sehingga film ini merugi 82 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,2 triliun.
4. The 13th Warrior (1999)
Antonio Banderas harus masuk dalam daftar ini lewat film 'The 13th Warrior' arahan sutradara John McTiernan. Set luar biasa sebagai pendukung cerita Banderas sebagai Ahmad ibn Fadlan tak disertai plot yang kuat.
Ikon film tersebut Omar Shariff bahkan sangat kecewa saat menyelesaikan proses produksi. Ia kemudian berhenti sementara dari akting sambil berkata pada wartawan, "Film jelek sangat memalukan."
Film yang dibuat dengan biaya US$ 160 juta ini mengalami kerugian Rp 1,3 triliun.
5. Mars Needs Moms (2011)
'Mars Needs Moms' adalah salah satu film animasi yang mengalami kegagalan terbesar. Para penonton terganggu dengan penggambaran cerita tentang anak yang diculik dan penangkapan gambar yang terlalu menyeramkan.
Produser Robert Zemeckis ('Forest Gump', 'Back to the Future') adalah sosok yang ikut bertanggung jawab dalam kerugian Rp 1,35 triliun.
6. Sahara (2005)
Film yang mengambil latar di gurun ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Clive Cussler. 'Sahara' yang dibintangi� Matthew McConaughey, Steve Zahn dan Penelope Cruz dilaporkan memiliki kerugian Rp 1,42 triliun.
Ulasan yang buruk dari kritikus, membuat film itu tak bisa melesat di box office. Sahara dinilai sebagai 'bencana', dan digunakan sebagai contoh ketika studio menghabiskan terlalu banyak uang untuk produksi film.
7. The Adventures Of Pluto Nash (2002)
Cukup mengejutkan melihat Eddie Murphy hanya muncul sekali dalam film dengan peran sebagai pensiunan penyelundup. Setelah proses produksi selesai (dengan biaya lebih dari US$ 100 juta) film ini baru keluar dua tahun kemudian.
'The Adventures Of Pluto Nash' memiliki kerugian hampir Rp 1,426 triliun, dan Murphy sepertinya sudah menyiapkan sisi lucu dari kegagalannya dengan berkata, "Saya tahu ada dua atau tiga orang yang akan menyukai film ini."
8. The Alamo (2004)
Publik Amerika seharusnya bisa belajar sejarah ketika produser Ron Howard menceritakan kembali salah satu pertempuran besar di negara itu saat revolusi di Texas.
Dengan biaya produksi yang besar serta bintang seperti Dennis Quaid dan Billy Bob Thornton, penonton berharap disuguhkan film sejarah yang epik. Namun film itu menimbulkan kekecewaan besar. Selain itu 'The Alomo' tenggelam karena bayang-bayang film 'Passion of the Christ' yang dirilis berdekatan.
'The Alamo' mengalami kerugian sekitar Rp 1,47 triliun.
Film-film Hollywood yang gagal tersebut bisa diambil pelarjaran juga bagi pecinta film dan pekerja film itu sendiri. Nah berikut 8 Film Hollywood yang Tidak Sukses atau gagal di pasaran
1. Heaven's Gate (1980)
Film epik ala Barat dengan aktor-aktor kelas A dan biaya US$ 44 juta ini memiliki hampir semua kriteria untuk sukses. Namun sutradara Michael Cimino (The Deer Hunter) membuat film tersebut dengan buruk.
'Heaven's Gate' mengalami kerugian senilai 75,6 juta poundsterling atau setara sekitar Rp 1,1 triliun untuk saat ini.
2. Speed Racer (2008)
Wachowski Bersaudara mengeluarkan dana yang sangar besar untuk film live action adaptasi kartun Jepang ini, dan mereka tak mendapatkan keuntungan yang sebanding. Kritikus menyorot hampir semua aspek dalam film, mulai dari penggunaan CGI yang berlebihan, soundtrack yang buruk, hingga adegan mengemudi yang tak penting.
Film ini mengalami kerugian 75,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,10 triliun.
3. Town & Country (2001)
Film komedi romantis ini sudah bermasalah sejak awal pembuatannya. Produser mengeluarkan kocek tebal untuk deretan pemain seperti Diane Keaton, Charlton Heston, Goldie Hawn dan Warren Beatty, yang dibayar 3 juta poundsterling untuk bangkit dari kursi pensiunnya.
Selain itu ditambah fakta bahwa mereka tidak mendapatkan skrip yang telah selesai. Keseluruhan produksi tertunda satu tahun, sehingga para aktor kehabisan waktu dan pergi untuk membuat film lain.
Namun kemudian 'Town & Country' akhirnya dirilis pada 2001, lebih lambat tiga tahun dari jadwal rilis awal. Dan ketika keluar, hasilnya tidak sepadan dengan penantian selama tiga tahun sehingga film ini merugi 82 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,2 triliun.
4. The 13th Warrior (1999)
Antonio Banderas harus masuk dalam daftar ini lewat film 'The 13th Warrior' arahan sutradara John McTiernan. Set luar biasa sebagai pendukung cerita Banderas sebagai Ahmad ibn Fadlan tak disertai plot yang kuat.
Ikon film tersebut Omar Shariff bahkan sangat kecewa saat menyelesaikan proses produksi. Ia kemudian berhenti sementara dari akting sambil berkata pada wartawan, "Film jelek sangat memalukan."
Film yang dibuat dengan biaya US$ 160 juta ini mengalami kerugian Rp 1,3 triliun.
5. Mars Needs Moms (2011)
'Mars Needs Moms' adalah salah satu film animasi yang mengalami kegagalan terbesar. Para penonton terganggu dengan penggambaran cerita tentang anak yang diculik dan penangkapan gambar yang terlalu menyeramkan.
Produser Robert Zemeckis ('Forest Gump', 'Back to the Future') adalah sosok yang ikut bertanggung jawab dalam kerugian Rp 1,35 triliun.
6. Sahara (2005)
Film yang mengambil latar di gurun ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Clive Cussler. 'Sahara' yang dibintangi� Matthew McConaughey, Steve Zahn dan Penelope Cruz dilaporkan memiliki kerugian Rp 1,42 triliun.
Ulasan yang buruk dari kritikus, membuat film itu tak bisa melesat di box office. Sahara dinilai sebagai 'bencana', dan digunakan sebagai contoh ketika studio menghabiskan terlalu banyak uang untuk produksi film.
7. The Adventures Of Pluto Nash (2002)
Cukup mengejutkan melihat Eddie Murphy hanya muncul sekali dalam film dengan peran sebagai pensiunan penyelundup. Setelah proses produksi selesai (dengan biaya lebih dari US$ 100 juta) film ini baru keluar dua tahun kemudian.
'The Adventures Of Pluto Nash' memiliki kerugian hampir Rp 1,426 triliun, dan Murphy sepertinya sudah menyiapkan sisi lucu dari kegagalannya dengan berkata, "Saya tahu ada dua atau tiga orang yang akan menyukai film ini."
8. The Alamo (2004)
Publik Amerika seharusnya bisa belajar sejarah ketika produser Ron Howard menceritakan kembali salah satu pertempuran besar di negara itu saat revolusi di Texas.
Dengan biaya produksi yang besar serta bintang seperti Dennis Quaid dan Billy Bob Thornton, penonton berharap disuguhkan film sejarah yang epik. Namun film itu menimbulkan kekecewaan besar. Selain itu 'The Alomo' tenggelam karena bayang-bayang film 'Passion of the Christ' yang dirilis berdekatan.
'The Alamo' mengalami kerugian sekitar Rp 1,47 triliun.
4 Alasan Tidak Memiliki Samsung Galaxy S 4
Apa smartphone yang paling keren saat ini? apa smartphone yang paling hot dan Smartphone yang paling diinginkan saat ini?
Bisa saja jawabanya adalah Samsung Galaxy S 4. Ya...bagi sebagian orang memang Samsung Galaxy S 4 memang layak diburu, tapi bagi sebagian orang lainnya tidak.
Apasih kejelekan atau kekurangan dari Samsung Galaxy S 4 sehingga Samsung Galaxy S 4 ini tidak layak untuk dimiliki. Setidaknya ada 4 alasan nih..mau tau aja atau mau tau banget?
1. Desainnya tidak jauh berbeda
Memang Samsung telah membuat beberapa perubahan yang terlihat lebih halus untuk Galaxy S 4 di bandingkan dengan galaxy S III, tapi masih terlihat hampir identik dengan Galaxy S III. flagshipnya memang dengan tepi bulat yang sama lembut dan bingkai plastik yang Anda akan menemukan di S III, namun dengan sasis yang sedikit lebih ramping dan lebih ringan dan layar sedikit lebih besar.
The S 4 adalah 0,31 inci tipis, menandai perbedaan 0,4 inci dari 0,35 inci S III. Hal ini juga dilengkapi dengan layar 5 inci lebih besar dibandingkan dengan 4,8-inch layar III S. Anda akan dapat merasakan dan melihat perbedaan ketika telepon di tangan Anda, tapi jangan berharap perbaikan dramatis dalam hal desain.
2. Perangkat lunak S4 Galaxy akan datang ke Galaxy S III
Selama tahun lalu Samsung telah membuat upaya untuk menciptakan pengalaman pengguna yang mulus di semua flagships Galaxy. Sebagai contoh, pada akhir 2012 Catatan Galaxy multi-window fitur 2 mendarat di Galaxy S III, dan kita bisa mengharapkan pola yang sama dengan fitur S 4 itu.
Nick DiCarlo, wakil presiden Samsung perencanaan portofolio, mengatakan PCMag bahwa ini berarti bahwa perbaikan kamera S 4 itu tidak mungkin "bisa kita lakukan itu tidak tergantung pada perangkat keras seperti inframerah, kita pasti akan membawa ke semua perangkat andalan." untuk membuatnya ke III S, namun tambahan lainnya seperti Health S, Translator S dan Kelompok Bermain dapat tersedia pada S III di masa depan.
Plus, Anda dapat menikmati beberapa fitur baru 4 S melalui aplikasi di toko Google Play. Sebagai contoh, runtastic Pro gratis app menggunakan GPS untuk melacak gerakan Anda dan berapa banyak kalori yang telah dibakar, seperti Kesehatan S. Selain itu, kabel penyedia seperti Time Warner yang menawarkan aplikasi smartphone pasangan Anda dengan kotak kabel sehingga berfungsi sebagai remote control, mirip dengan fitur WatchOn S 4 itu.
3. Anda tidak mendapatkan prosesor Samsung tercepat
Samsung akan meluncurkan dua versi yang 4 Galaxy S. Versi AS akan menampilkan 1,9-GHz Qualcomm Snapdragon prosesor 600, sedangkan edisi internasional akan mendapatkan 1.6-GHz Samsung octa-core chipset Exynos. Sementara ini masih merupakan upgrade dari 1,5 GHz CPU-Galaxy S III dual-core, pembeli di luar negeri akan mendapatkan 8 core. Ada alasan mengapa Anda tidak bisa mendapatkan CPU sendiri Samsung terbaru dan terbesar - tidak mendukung terintegrasi 4G LTE - tapi itu tidak berarti kita harus menyukainya.
4. Layar tidak lebih terang
Kami memiliki kesempatan untuk mengukur kecerahan layar 4 Galaxy S, dan hasilnya tidak mengesankan. 5-inch layar AMOLED S 4 Super terdaftar di 258 lux, yang terang dari lux 213 III S tampilan, tapi jauh di bawah rata-rata kategori 299 lux. Sebagai perbandingan, HTC Satu terdaftar 463 lux pada meteran cahaya kami, dan 5 iPhone mendapat 525 lux.
Bisa saja jawabanya adalah Samsung Galaxy S 4. Ya...bagi sebagian orang memang Samsung Galaxy S 4 memang layak diburu, tapi bagi sebagian orang lainnya tidak.
Apasih kejelekan atau kekurangan dari Samsung Galaxy S 4 sehingga Samsung Galaxy S 4 ini tidak layak untuk dimiliki. Setidaknya ada 4 alasan nih..mau tau aja atau mau tau banget?
1. Desainnya tidak jauh berbeda
Memang Samsung telah membuat beberapa perubahan yang terlihat lebih halus untuk Galaxy S 4 di bandingkan dengan galaxy S III, tapi masih terlihat hampir identik dengan Galaxy S III. flagshipnya memang dengan tepi bulat yang sama lembut dan bingkai plastik yang Anda akan menemukan di S III, namun dengan sasis yang sedikit lebih ramping dan lebih ringan dan layar sedikit lebih besar.
The S 4 adalah 0,31 inci tipis, menandai perbedaan 0,4 inci dari 0,35 inci S III. Hal ini juga dilengkapi dengan layar 5 inci lebih besar dibandingkan dengan 4,8-inch layar III S. Anda akan dapat merasakan dan melihat perbedaan ketika telepon di tangan Anda, tapi jangan berharap perbaikan dramatis dalam hal desain.
2. Perangkat lunak S4 Galaxy akan datang ke Galaxy S III
Selama tahun lalu Samsung telah membuat upaya untuk menciptakan pengalaman pengguna yang mulus di semua flagships Galaxy. Sebagai contoh, pada akhir 2012 Catatan Galaxy multi-window fitur 2 mendarat di Galaxy S III, dan kita bisa mengharapkan pola yang sama dengan fitur S 4 itu.
Nick DiCarlo, wakil presiden Samsung perencanaan portofolio, mengatakan PCMag bahwa ini berarti bahwa perbaikan kamera S 4 itu tidak mungkin "bisa kita lakukan itu tidak tergantung pada perangkat keras seperti inframerah, kita pasti akan membawa ke semua perangkat andalan." untuk membuatnya ke III S, namun tambahan lainnya seperti Health S, Translator S dan Kelompok Bermain dapat tersedia pada S III di masa depan.
Plus, Anda dapat menikmati beberapa fitur baru 4 S melalui aplikasi di toko Google Play. Sebagai contoh, runtastic Pro gratis app menggunakan GPS untuk melacak gerakan Anda dan berapa banyak kalori yang telah dibakar, seperti Kesehatan S. Selain itu, kabel penyedia seperti Time Warner yang menawarkan aplikasi smartphone pasangan Anda dengan kotak kabel sehingga berfungsi sebagai remote control, mirip dengan fitur WatchOn S 4 itu.
3. Anda tidak mendapatkan prosesor Samsung tercepat
Samsung akan meluncurkan dua versi yang 4 Galaxy S. Versi AS akan menampilkan 1,9-GHz Qualcomm Snapdragon prosesor 600, sedangkan edisi internasional akan mendapatkan 1.6-GHz Samsung octa-core chipset Exynos. Sementara ini masih merupakan upgrade dari 1,5 GHz CPU-Galaxy S III dual-core, pembeli di luar negeri akan mendapatkan 8 core. Ada alasan mengapa Anda tidak bisa mendapatkan CPU sendiri Samsung terbaru dan terbesar - tidak mendukung terintegrasi 4G LTE - tapi itu tidak berarti kita harus menyukainya.
4. Layar tidak lebih terang
Kami memiliki kesempatan untuk mengukur kecerahan layar 4 Galaxy S, dan hasilnya tidak mengesankan. 5-inch layar AMOLED S 4 Super terdaftar di 258 lux, yang terang dari lux 213 III S tampilan, tapi jauh di bawah rata-rata kategori 299 lux. Sebagai perbandingan, HTC Satu terdaftar 463 lux pada meteran cahaya kami, dan 5 iPhone mendapat 525 lux.
Ketika 7 Bos Teknologi Ini Beramal
Siapa sih orang terkaya dalam bidang teknologi? terus untuk apa kekayaan mereka? Mau tau aja atau mau tau banget?
Tak sedikit mereka yang kaya memanfaakan untuk foya-foya tapi ada juga yang beramal. Berikut Ketika 7 Bos Teknologi Ini Beramal
1. Mark Zuckerberg & Priscilla Chan
Pengguna internet mana yang sekarang tak mengenal Mark Zuckerberg. Masih muda, super kaya, namun tetap murah hati dan tak sungkan berbagi.
Bersama sang istri -- Priscilla Chan -- Zuckerbeg telah mendonasikan sebesar 18 juta dari saham Facebook yang bernilai hampir USD 500 juta atau Rp 4,8 triliun (USD 1 = Rp 9.600) pada Sillicon Valley Community Foundation.
Pasangan tersebut berada di urutan kedua pendonor terbesar di tahun 2012, di bawah Warren Buffett (82) yang menyumbang sebesar USD 3,1 miliar ke tiga yayasan yang dijalankan anak-anaknya.
Meski sebelumnya Zuckerberg pernah masuk di daftar The Chronicle of Philanthropy tersebut, namun ini adalah kali perdana ia masuk dalam 5 besar. Adapun sumbangan yang mereka berikan akan disalurkan pada program yang bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan.
2. Paul Allen
Paul Allen merupakan kompatriot Bill Gates. Keduanya sama-sama berstatus sebagai pendiri produsen software raksasa Microsoft.
Tahun lalu, lewat yayasannya -- Allen Institute for Brain Science -- pria yang juga pendiri Vulcan Capital ini telah mendonasikan USD 300 juta atau sebesar Rp 2,8 triliun (USD 1 = Rp 9.600).
Selain itu, Allen juga diketahui telah memberikan sebanyak USD 8 juta kepada EMP Museum. Ini merupakan scientific & pop culture museum yang didirikan Allen.
3. Sergey Brin & Anne Wojcicki
Sama seperti para seniornya, pendiri Google Sergey Brin pun kompak dengan sang istri -- Anne Wojcicki -- untuk urusan aktivitas amal.
Menurut penelusuran Chronicle of Philanthropy, keduanya yang memiliki yayasan bernama The Brin Wojcicki Foundation menghabiskan sekitar USD 223 juta atau setara Rp 2,1 triliun untuk urusan donasi di tahun 2012.
Selain berderma melalui yayasan milik mereka sendiri. Brin dan Wojcicki juga telah memberikan bantuan sekitar USD 32,8 juta kepada Michael J. Fox Foundation yang bergerak untuk penelitian penyakit Parkinson.
4. Irwin & Joan Jacobs
Pendiri Qualcomm Irwin Mark Jacobs dan sang istri, Joan Jacobs, juga tak kalah dermawan dengan para koleganya di ranah teknologi.
Orangtua dari Paul Jacobs -- CEO Qualcomm -- ini menurut laporan Chronicle of Philanthropy telah mengucurkan sekitar USD 60 juta atau setara dengan Rp 576 miliar (USD 1 = Rp 9.600) bagi yayasan atas mereka sendiri, Joan and Irwin Jacobs Fund yang berlokasi di San Diego, Amerika Serikat.
Kucuran dana melimpah tersebut selanjutnya bakal dimanfaatkan untuk aktivitas amal di berbagai bidang. Mulai dari untuk Institute for Biological Studies, High Tech Foundation, hingga untuk Adenoid Cystic Carcinoma Research Foundation.
5. Jeff & Judy Henley
Pasangan suami istri ini juga tak setenar Bill & Melinda Gates. Namun jangan disangsikan pula kemurahan hati mereka.
Jeff Henley merupakan Chairman Oracle. Bersama sang istri tercinta, mereka telah memutuskan untuk menyumbangkan dana sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp 480 miliar (USD 1 = Rp 9.600) untuk pembangunan gedung baru di University of California, Santa Barbara Institute for Energy Efficiency.
Kepada Chronicle of Philanthropy, Jeff & Judy Henley mengaku bahwa salah satu dorongan untuk memberikan donasi tersebut adalah lantaran tak tega melihat adanya potongan budget yang bisa berimbas besar terhadap sistem di tempat menuntut ilmu tersebut.
6. Eugene Lang
Nama Eugene Lang memang tak setenar Bill Gates ataupun almarhum Steve Jobs. Namun bukan berarti ia tak peduli dengan aktivitas menghimpun pahala.
Eugene tercatat sebagai pendiri REFAC Technology Development. Pada tahun 2012 lalu, ia telah mendonasikan sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp 480 miliar (USD 1 = Rp 9.600) untuk almamaternya, Swarthmore College.
Ia berharap, kucuran uangnya yang 'cukup' melimpah itu dapat digunakan untuk pembangunan program serta fasilitas engineering dan science di kampus yang telah memberinya ilmu tersebut.
7. Larry Ellison
Pendiri dan CEO Oracle Larry Ellison memang sering diberitakan terkait kehidupannya yang glamour dan berhias segala kemewahan.
Hal itu memang sulit ditampik. Sebab faktanya, Ellison banyak memiliki koleksi mobil mewah, kapal pesiar, pesawat terbang, hingga memiliki pulau pribadi.
Pun demikian, sisi lain dari kehidupan Ellison tak melulu soal foya-foya. Berdasarkan catatan The Chronicle of Philanthropy, pria flamboyan ini juga termasuk sosok yang concern untuk urusan amal.
Sektor yang dipilih bos Oracle ini salah satunya adalah Ellison Medical Foundation yang melakukan penelitian tentang obat anti penuaan dan peduli dengan kaum difabel.
Tahun 2012 lalu, Ellison diketahui telah mengeluarkan sekitar USD 45,6 juta atau sekitar Rp 437 miliar (USD 1 = Rp 9.600).
Tak sedikit mereka yang kaya memanfaakan untuk foya-foya tapi ada juga yang beramal. Berikut Ketika 7 Bos Teknologi Ini Beramal
1. Mark Zuckerberg & Priscilla Chan
Pengguna internet mana yang sekarang tak mengenal Mark Zuckerberg. Masih muda, super kaya, namun tetap murah hati dan tak sungkan berbagi.
Bersama sang istri -- Priscilla Chan -- Zuckerbeg telah mendonasikan sebesar 18 juta dari saham Facebook yang bernilai hampir USD 500 juta atau Rp 4,8 triliun (USD 1 = Rp 9.600) pada Sillicon Valley Community Foundation.
Pasangan tersebut berada di urutan kedua pendonor terbesar di tahun 2012, di bawah Warren Buffett (82) yang menyumbang sebesar USD 3,1 miliar ke tiga yayasan yang dijalankan anak-anaknya.
Meski sebelumnya Zuckerberg pernah masuk di daftar The Chronicle of Philanthropy tersebut, namun ini adalah kali perdana ia masuk dalam 5 besar. Adapun sumbangan yang mereka berikan akan disalurkan pada program yang bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan.
2. Paul Allen
Paul Allen merupakan kompatriot Bill Gates. Keduanya sama-sama berstatus sebagai pendiri produsen software raksasa Microsoft.
Tahun lalu, lewat yayasannya -- Allen Institute for Brain Science -- pria yang juga pendiri Vulcan Capital ini telah mendonasikan USD 300 juta atau sebesar Rp 2,8 triliun (USD 1 = Rp 9.600).
Selain itu, Allen juga diketahui telah memberikan sebanyak USD 8 juta kepada EMP Museum. Ini merupakan scientific & pop culture museum yang didirikan Allen.
3. Sergey Brin & Anne Wojcicki
Sama seperti para seniornya, pendiri Google Sergey Brin pun kompak dengan sang istri -- Anne Wojcicki -- untuk urusan aktivitas amal.
Menurut penelusuran Chronicle of Philanthropy, keduanya yang memiliki yayasan bernama The Brin Wojcicki Foundation menghabiskan sekitar USD 223 juta atau setara Rp 2,1 triliun untuk urusan donasi di tahun 2012.
Selain berderma melalui yayasan milik mereka sendiri. Brin dan Wojcicki juga telah memberikan bantuan sekitar USD 32,8 juta kepada Michael J. Fox Foundation yang bergerak untuk penelitian penyakit Parkinson.
4. Irwin & Joan Jacobs
Pendiri Qualcomm Irwin Mark Jacobs dan sang istri, Joan Jacobs, juga tak kalah dermawan dengan para koleganya di ranah teknologi.
Orangtua dari Paul Jacobs -- CEO Qualcomm -- ini menurut laporan Chronicle of Philanthropy telah mengucurkan sekitar USD 60 juta atau setara dengan Rp 576 miliar (USD 1 = Rp 9.600) bagi yayasan atas mereka sendiri, Joan and Irwin Jacobs Fund yang berlokasi di San Diego, Amerika Serikat.
Kucuran dana melimpah tersebut selanjutnya bakal dimanfaatkan untuk aktivitas amal di berbagai bidang. Mulai dari untuk Institute for Biological Studies, High Tech Foundation, hingga untuk Adenoid Cystic Carcinoma Research Foundation.
5. Jeff & Judy Henley
Pasangan suami istri ini juga tak setenar Bill & Melinda Gates. Namun jangan disangsikan pula kemurahan hati mereka.
Jeff Henley merupakan Chairman Oracle. Bersama sang istri tercinta, mereka telah memutuskan untuk menyumbangkan dana sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp 480 miliar (USD 1 = Rp 9.600) untuk pembangunan gedung baru di University of California, Santa Barbara Institute for Energy Efficiency.
Kepada Chronicle of Philanthropy, Jeff & Judy Henley mengaku bahwa salah satu dorongan untuk memberikan donasi tersebut adalah lantaran tak tega melihat adanya potongan budget yang bisa berimbas besar terhadap sistem di tempat menuntut ilmu tersebut.
6. Eugene Lang
Nama Eugene Lang memang tak setenar Bill Gates ataupun almarhum Steve Jobs. Namun bukan berarti ia tak peduli dengan aktivitas menghimpun pahala.
Eugene tercatat sebagai pendiri REFAC Technology Development. Pada tahun 2012 lalu, ia telah mendonasikan sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp 480 miliar (USD 1 = Rp 9.600) untuk almamaternya, Swarthmore College.
Ia berharap, kucuran uangnya yang 'cukup' melimpah itu dapat digunakan untuk pembangunan program serta fasilitas engineering dan science di kampus yang telah memberinya ilmu tersebut.
7. Larry Ellison
Pendiri dan CEO Oracle Larry Ellison memang sering diberitakan terkait kehidupannya yang glamour dan berhias segala kemewahan.
Hal itu memang sulit ditampik. Sebab faktanya, Ellison banyak memiliki koleksi mobil mewah, kapal pesiar, pesawat terbang, hingga memiliki pulau pribadi.
Pun demikian, sisi lain dari kehidupan Ellison tak melulu soal foya-foya. Berdasarkan catatan The Chronicle of Philanthropy, pria flamboyan ini juga termasuk sosok yang concern untuk urusan amal.
Sektor yang dipilih bos Oracle ini salah satunya adalah Ellison Medical Foundation yang melakukan penelitian tentang obat anti penuaan dan peduli dengan kaum difabel.
Tahun 2012 lalu, Ellison diketahui telah mengeluarkan sekitar USD 45,6 juta atau sekitar Rp 437 miliar (USD 1 = Rp 9.600).


